Cerita tes SIM ke 2 ku
Setelah setahun dari tanggal kadaluarsa pada SIM C (Surat Ijin Mengemudi) ku terpaksa aku harus membuat permohonan baru untuk mendapatkan sim lagi, untuk mendapatkan ternyata tak semudah dulu waktu aku masih SMA dimana cukup membayar dibank yang ditunjuk datang kekantor polisi tanpa tes ini itu ini itu jadi hehe….
20/06/08 tanggal dimana aku meminta permohonan sim yang baru aku ketemu temen lama yang kebetulan dia baru menggurus permohonan sim juga untuk pertama kalinya buat dia.. aku ketemu dia ketika KIR kesehatan aku dah datang kira kira mulai jam delapan pagi… sementara dia datang sekitar jam sembilan pagi.. entah kenapa waktu itu belum dibuka juga antri panjang menunggu sang Dokter ahli KIR tersebut. disinilah penderitaan dimulai..
Jam KIR tiba teng tong mulailah dipanggil satu persatu.. tibalah namaku yang dipanggil.. senengnya kebetulan ruangan Dokternya angak gelap (mendramatisir) mulailah tes tensi darah atau whatever aku pikir.. katanya normal bagus, bagus dan aku dikasih kertas yang cuma gambar bulet-bulet dia tanya angka berapa ini aku jawab apa pak (yang memang ngak kelihatan sama sekali). diulang lagi pertanyaan sang Dokter angka berapa ini jawaban sama aku berikan pada dokter apa pak… trus dia buka halaman sebelumnya dengan pertanyaan sama juga. Di kertas itu aku melihat angka 12 ohw ternyata ada angkanya… trus pak dokter buka lagi halaman yang tadi dengan pertanyaan yang sama juga.
tanpa pikir panjang aku jawab aja angkanya aku bilang 11 (padahal ngak kelihatan) ternyata mungkin dokter itu tau aku jawab asal trus kata-kata terakhir dari sang Dokter yang ngak mungkin aku lupakan seumur hidup “anda buta warna” penderitaan pertama. waduh hancur hatiku yang kebetulan aku pakai kacamata minusku waktu itu. mungkin aku kurang percaya jikalau aku ngak pakai kacamata karena mataku juga error melihat ditempat-tempat yang agak gelap.
Setelah selesai dan keluar dari ruangan dengan hati yang hancur saatnya aku meneruskan perjalanan untuk mulai tes tahap berikutnya… tes tertulis ( UJIAN nehh). ngak masalah tinggal ambil soal dan isi asal sana sini kasihkan Pak Polisi dan nunggu untuk tees mengendarai… WUTZZZ ternyata temanku yang tadi ketemu di tempat KIR kok ngak ikut tes mengendarai malah langsung photo.penderitaan kedua sementara aku nunggu sampai jam 11.00. ngak masalah wong aku orang yang jujur
, setelah tes tiba Pak Polisi nunjukin
cara testnya muter liuk kanan liyuk kiri dengan teori dan pas praktek ternyata ada satu balok yang seharusnya ngak boleh jatuh kata Beliau ternyata Beliau menjatuhkannya . waduh Pak Polisi aja ngak lulus gimana dengan aku ini. sesuai perkiraanku dengan aku ngak lulus.. yang paling bikin sakit ati kita harus bawa sertifikat mengendarai dari kepada LPK LPK yang udah ditunjukkan oleh Pak Polisi tadi dan tidak boleh hari yang sama harus keesokan paginya tepat jam 09.00 (disisi lain temenku tadi dah selesai buat SIMnya) terpaksa aku nurut aja dari pada ngak dapat SIM. hari itu juga aku lansung aja beli sertifikat mengendarai…. “berapa mbak” tanyaku, “75.000″ katanya, “lho kok mahal mbak” jawabku lagi. “ya memang harganya segitu dari sana” mbak sertifikat itu menjawab lagi. “yupzzzzz sana mana dalam benakku” ketipu sederhana nih…… ngak papa dari pada ngak dapat SIM hayoo. keesokan harinya aku langsung datang nyerahin serfikat dan foto dapet SIM. “MEMANG KADANG-KADANG KEADILAN ITU MENYAKITKAN”
About this entry
You’re currently reading “Cerita tes SIM ke 2 ku,” an entry on anarkies
- Published:
- September 1, 2008 / 12:13 am
- Category:
- Cerita sampah
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]